eberadaan gunung itu ada legenda tersendiri yang menceritakan asal muasal terjadinya gunung itu. Konon gunung itu bukan berasal proses alami, melainkan akibat dari sebuah pengkhianatan cinta.Hmmm . . .

Adalah Dewi Kilisuci, anak putri Jenggolo Manik yang konon memiliki kecantikan luar biasa. Tidak sedikit kesatria bertekuk hatinya untuk menjadikan Kilisuci sebagai istrinya.

Ternyata kecantikan itu menyentuh hati dua orang raja meski dilihat dari fisiknya bukanlah raja manusia biasa. Kedua raja itu berkepala lembu masing-masing bernama Raja Lembu Sura dan Mahesa Sura.

Mereka dimabuk kepayang karena begitu cintanya terhadap Dewi Kilisuci dan akhirnya menyatakn keinginannya untuk menyuntingnya untuk dijadikan istrinya.

Susah Menolak

Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu susah untuk menolaknya, namun untuk menyatakan secara langsung ketidaksukaannya, dia tidak punya cara. Akhirnya muncul ide sebagai upaya untuk menolak cinta keduanya.

Dibuatlah sayembara yang kalau dipikir tidak masuk akal, karena permintaan sang dewi itu tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa.

Yakni, membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan satu lagi wangi. Kedua sumur itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam berkokok.

Namun karena Lembu Sura dan Mahesa Sura sangat sakti, permintaan Dewi Kilisuci itu bisa diselesaikan dengan baik dan cepat.

Belum puas atas hasil itu, Dewi Kilisuci kembali membuat sayembara. Kedua raja itu harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Karena keduanya dimabuk kepayang, tanpa memperdulikan risikonya maka permintaan itu pun dilaksanakan juga meski sumur yang dibuat itu sangat dalam.

Tidak disangka, di saat keduanya sudah berada di dalam sumurnya masing-masing, Dewi Kilisuci memerintahkan pada perajurit-perajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu agar keduanya mati. (Wiharjono-77)
Legenda Gunung Kelud (2)

Menolak Sial dengan Larung Sesaji

NAMUN sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).

Akhirnya untuk menangkal sumpah itu hingga kini masyarakat Kediri secara rutin menyelenggarakan selamatan berupa “larung sesaji” sebagai upaya menolak sial agar warga Kediri selalu selamat.

Hingga kini acara selamatan Larung Sesaji masih terus berjalan yang digelar setahun sekali setiap tanggal 23 bulan Sura, yang diselenggarakn oleh masyarakat Desa Sugih Waras.

Termasuk adanya terowongan Ampera sepanjang hampir 1 kilometer yang dibangun untuk mengurangi volume air kawah agar tidak meluap. Terowongan yang menembus Puncak Gajah Mungkur itu ada yang menyebut dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang, tapi ada yang mengatakan baru pada tahun 1951, dengan fungsinya sebagai jalan pembuangan lahar.

Lorong ini menjadi semakin menarik karena di saat acara ritual itu berlangsung di sepanjang terowongan dipasang lilin dan petromaks.

Bangun Tangga

Untuk menunjang objek wisata itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah membangun tangga yang menghubungkan terowongan bagi pejalan kaki hingga bibir kawah yang panjangnya diperkirakan mencapai 500 meter.

Keberadaan air hangat itu untuk melengkapi keindahan kawah yang bentuknya mirip danau dengan kedalaman air antara 20 sampai 40 meter.

Bahkan sudah dibangun jalan hot mix dari Ngancar hingga perkebunan daerah Margomulyo yang sudah selesai akhir tahun 2002 lalu.

Yang menarik perjalanan menuju kawah Gunung Kelud, setelah beberapa saat melewati hutan yang lembab akhirnya lepas ke alam terbuka.

Sejauh mata memandang terlihat hamparan hijau dari perkebunan, mendekati kawah, setelah melapor ke petugas kendaraan akan melewati terowongan yang cukup untuk satu mobil saja yang tidak mungkin bisa untuk berpapasan. Tidak perlu khawatir dengan kegelapan karena sepanjang terowongan tersebut sudah dipasang lampu di dindingnya.

Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan, mulai tahun 1000 sampai 1990. Gunung ini secara kontinu dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi dan Metigasi Bencana Geologi Bandung yang bermarkas di Desa Sugih Waras. (Wiharjono-77)

Sumber : http://gunungkelud.multiply.com/journal/item/1/Legenda_Gunung_Kelud_

About these ads