cermin retak

Serupa cermin, anak – anak berkaca pada orang tuanya. Mengambil contoh dan menjadikan mereka panduan. Namun sebuah cermin bisa saja retak karena sifatnya yang memang mudah pecah. BEGITU PULA ORANG TUA. bagaimanapun , mereka juga manusia yang mudah tersesat khilaf dan berbuat salah . Karena sesungguhnya , hanya Allah Yang Maha Sempurna .

***

Meski sudah lewat puluhan tahun , tapi kisah masa lalu keluarga kami ini tak akan penah hilang dari kenanganku. Yang timbul dari apa yang kulihat denagn mata kepalaku sendiri, juga penuturan Ibu disela-sela isakannya. Kenangan yang kemudian meninggalkan luka trauma di hatiku, dan tanpa sadar membuatku menjadi sesosok pribadi yang bermasaah.Kini , aku sengaja menceritakannya kembali untuk siapapun yang sudi membacanya. Semoga pengalaman berikut bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja.

Bertahun – tahun aku membenci Ayah. Membenci apa yang telah dilakukannya pada kami, terutama ibu. Seua itu berawal dari tindakannya yang kuanggap semena-mena dan tidak bertanggung jawab. Tindakan seorang laki-laki egois dan merasa berkuasa.

Diceritakan padaku lewat mulutnya sendiri , ibu menikah di usia 19 tahun dengan seorang pemuda esa yang bekerja di kota. Pemuda itu masih lugu dan mampu memikat hati ibu.Karena pernikahaan itu adalah pilihan keduanya, maka bahagialah mereka di awal  menjalaninya. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama Setelah 2 tahun menikah , mereka belum juga mendapat keturunan. Hal ini kemudian menjadi sumber pengganggu ketenangan hidup rumah tangga kecil itu. Sebagai pelmpiasan , Ibu disalahkan Suaminya . Tapi untunglah, Allah lalu memberi Karunua-Nya.

Ibu hamil dan akan mendapatkan keturunan pertamanya-ibu mengira masalahnya dengan ayah akan terselesaikan.Tapi takdir berkehenda lain.Ibu meahirkan, tapi anak perempuan-sementara Ayah sangat mendambakan anak laki-laki agar bisa meneruskan namanya.Jadilah kecewa berbuah sesal dihatinya.Bukannya gembira atas kelahiran putri pertamanya, Ayah malah mulai sering menyakiti hati Ibu.Kata Ayah puterinya itu adalah musibah pertama baginya.Ibupun hanya bisa menangis mendengar ucapan tersebut.Namun demi keluarga dan anaknya, Ibu berusaha bertahan.Dan 2 tahun setelah , Ibu hamil lagi dan lahirlah aku-seorang perempuan(lagi).Serupa yang diterima kakakku, Ayah menuduhku sebagai musibahnya yang ke-2.Kali ini Ibu mulai berani mengambil sikap, sehingga pertengkaranpun tak dapat dihindarkan.Perlahan, hidup berubah menjadi kelam bagi Ibu.

Namun rasa cinta Ibu pada Ayah tak pupus begitu saja, meski sering dimaki dan dihina karena tidak dapat melahirka anak laki-laki.Ibu tidak putus asa dan terus berusaha untuk mendapatkan anak impian Ayah. Akhirnya selama setahun menanti, Ibu hamil lagi . Dan dalam kehamilannya kali ini Ibu tak hentinya berdo’a agar mendapatkan anak laki-lki.Tapi Allah punya rencana endiri.Lagi-lagi Ibu melahirkan anak perempuan yang membuat kesabaran Ayah seketika mencapai batas.Saat itu juga ketika mengetahui jenis kelain bayi yang baru dilahirkan , Ayah meninggalkan Ibu yang masih terbaring di Rumah Sakit. Seminggu kemudian , Ayah menjatuhkan talak pada Ibu tanpa memperdulikan ketiga anaknya yang masih kecil.

Beberapa lamanya , akhirnya Ibu menikah lagi dengan seorang kerabat.Beberapa bulan setelah menikah, Allah mengijinkan Ibu hamil lagi.Dan , alhamdulillah Allah menganugrahkan anak laki-laki bahkan 2 pula.kembar. tak terbayangkan betapa gembiranya hati Ibu.

Hidup pun terus berlanjut dan usia terus bertambah . ami memang tak pernah lagi berhubungan dengan Ayah, tapi kenangan yang ditinggakannya terpatri jelas dalam ingatan. Meski Ayah tiri kami begitu menyayang kami seperti anaknya sendiri , tetap saja itu tidak mampu mengahapus sosok Ayah dibenak kami. Dan semakin bertmbah usiaku , semakin aku membenci Ayah . membenci kaum laki-laki tepatnya.  Sampai satu per satu saudaraku bertemu dan menjalin hubungan dengan  para pemuda, aku tetap lebih memilih hidup sendiri.

Bereda denagn pernikahan kakak, kali ini dipernikahan adikku Ibu ingin Ayahku yang menjadi wali adikku. Ibu mulai sibuk mencari keberadaan Ayah dan ini membuat aku sangat marah. Dengan sengaja , kucari-cari alasan untuk menggagalkan rencana ibu.berhasil.Pernikahan pun berlangsung tanpa kehadirannya.Aku lega. Tapi rupanya sikap antipatiku terhadap Ayah kemudian mendapat teguran dari-Nya.

Disuatu tempat,aku bertemu teman lama dan kuundang dia kerumah untuk dapat saling bertukar cerita.Pada kedatangannya kesekian kali baru ku tahu bahwa dia tengah dirundung duka.Bapaknya baru saja meninggal, setelah mengalami kelumpuhan total cukup lama  akibat kecelakaan.Selama itu pula , dia merawat bapaknya.Padahal setauku bapaknya sering bersikap kasar padanya , bahkan tak jarang memukulinya. Dan dari penuturannya bapaknya itu bukanlah ayah kandungnya.

Seketika hatiku terasa ngilu, ada yang tersentil dan menangis pilu didalam sana.Batinku berbisik lirih, ” Kau telah mengingkari Ayah kandungmu sendiri. Kau anak durhaka.” airmataku menggenang seketika.Akhirnay kusadari kesalahanku selama ini.Kusadari bahwa Ayahku juga manusia, yang berarti bahwa khilaf dan salah bisa diperbuatnya. Adapun orangtua hanyalah status yang tak bisa membuatnya  bersih dari dosa.

Kini sikapku benar – benar berubah. Dalam hati telah kumaafkan semua kesalahan Ayah . Walau awalnya terasa sangat berat. tapi denagn semkin rajin mendekatkan diri padanya , rasa berat itu akhirnya berganti menjadi ikhlas. Maka terlepaslah beban berat yang selama ini ku tanggung . dan bahagia it kutemukan kembali . Lewat tulisan ini kutitipkan sebah pesan untuk ayah :

” Dina pun Ayah kini berada , semoga Allah selalu menjaga , melindungi dan memaafkan dosa-dosamu , serta memberi kebaikan dalam hidupmu .”

Dikutip dari :

Buku Allah Maha Mendengar Karya Abdul Wahab Mutawi hal 87-95