Ting… dentingan gelas sesaat membuatku terpaku, pada waktu yang aku buang di tengah malam, saat mahkluk hidup tertidur menikmati buaian dan alunan mimpi. Ting… lagi-lagi aku mendentingkan gelas berisi teh panas, lewat jari-jariku, suara membosankan itu terdengar, hanya ting… tak ada nada lain lagi. Aku mendesah panjang, lama sekali hingga tersadar aku tengah berada di ruangku, hanya berteman kursi yang saat ini aku duduki, juga meja, altar tempat gelasku berada tepat di atasnya, dan juga perapian berukiran rokoko, apinya memakan lahap reranting kering. Kembali aku mendesah, kulirik kaca jendela untuk melihat keluarnya, di luar sana hanya menyisakan kabut malam. Kabut itu turun melewati bukit tinggi dan akhirnya hanya mengetuk-ngetuk jendela ruangku. Apakah harus kubuka? Pertanyaan itu meluncur begitu saja, serta tak punya arti apapun pada ucapannya.

Begitu lama aku berpikir hingga akhirnya kuputuskan untuk membuka jendela ruangku, akan kupersilahkan kabut itu masuki ruangku. Namun, niat itu membeku dan terpikir olehku, apakah ruangku bisa menjadi hangat? Mengingat udara di luar sana begitu dingin, dan mungkin dingin itu bisa memadamkan bara perapianku. Kembali aku menjadi ragu. Kureguk sedikit teh panas ini, demi mengusir ragu, namun itu sama sekali tak berpengaruh. Akhirnya aku lupa akan hal itu, karena tiba-tiba saja sebuah buku melayang-layang terbang dilangit-langit ruangku, aku terbangun dari kursiku, kucoba untuk menangkap buku itu dan aku berhasil.

Lama aku memandangi buku ini, ada sedikit keganjilan pada sampulnya, karena sampulnya membentuk sebuah guratan wajah timbul dan karakternya begitu kuat hingga aku menemukan sedikit sepi, lelah, dan kesedihan, namun tawa berkelindan dengan ketiganya, aku tersenyum saat memperhatikannya.

“Benar-benar buku yang aneh…” gumamku. Saat kubuka sampul buku itu kulihat pada halaman pertama sebuah tulisan yang tertera begitu indah, kalimat itu berbunyi ‘Love the One You’re With’ dan tulisan sesudah itu sama sekali tak ada, begitu juga ketika kubuka halaman kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, tak ada tulisan lain lagi selain tulisan itu, hanya ada kertas kosong, begitu putih, bersih, tak ada kotoran sedikit pun.

Sesudah dan setelah itu aku tertawa terbahak, hingga tak sadar darah beningku tertumpah di lantai ruangku, saat ini aku tak tertawa sendiri karena meja, bangku dan gelas berisi teh menemaniku tertawa hingga aku lelah lalu terduduk di sudut ruangku, tak sadar sedari tadi kabut di luar sana terus saja mengetuk-ngetuk jendela ruangku. Aku melangkah menuju mejaku dan kuraih gelas berisi teh yang sedari tadi masih panas dan asapnya terus saja mengepul.

“Apakah kalimat itu membuatmu mengerti” kataku pada gelas berisi teh, namun ia tak menjawab, tak seperti tadi saat gelas ini tertawa terbahak, ia diam. Aku kembali tersenyum

“Memang, tak pernah ada jawabannya” kataku, sambil tengadah..

Kembali aku duduk pada kursi, dan lambat laun di ruangku bermunculan bingkai-bingkai dari dinding ruangku, hingga bingkai itu membentuk tebaran memenuhi dinding ruangku, aku hanyut memandangi wajah-wajah dalam bingkai tersebut, begitu berwarna namun juga begitu asing, tetapi bagiku itu hanya pemborosan warna, sama sekali tak ada arti apapun.

“Benarkah seperti itu…?” menyahut buku yang sedari tadi kepegang, aku menjadi kaget mendengarnya karena buku ini bisa membaca apa yang aku ucapkan di dalam hatiku.

“Memang benar kan, itu hanya sebuah pemborosan warna yang terdiri dari dunia hitam dan putih, dan bila ada warna lain itu hanya ada satu warna yaitu abu-abu” kataku, pada buku bersampul wajah itu.

Tiba-tiba buku itu menjadi lumer, menjadi cairan dan membasahi ruangku, sesaat timbul dan akhirnya ia tenggelam oleh cairannya sendiri. Aku hanya termenung menyaksikannya.

Kulihat ruangku kembali menjadi kosong, tak ada bingkai bertebaran ataupun cairan bekas lumeran buku berwajah itu, hanya ada aku, meja, kursi dan gelas berisi teh panas. Begitu kering, sunyi, sepi. Kembali aku mendengarnya, sebuah ketukan kuat namun lembut, kabut itulah yang terus mengetuk tanpa henti, sayangnya aku tak begitu menghiraukan ketukan kabut menyebalkan itu. Kulihat serangga berputar-putar di atas kepala sambil menjinjing lampion. Serangga itu bergerak ke kanan lalu bergerak ke kiri, dan bergerak kembali ke kanan. Ada alunan lagu serta irama saat serangga ini mengepakkan sayapnya, sebuah lagu asing dan baru kudengar.

“Hei… tetaplah disini!, tetaplah disisiku!” teriakku, pada serangga. Sepertinya ia akan segera berlalu melewati dinding pembatas ruangku. Serangga itu menghampiriku, ia tepat berada di hadapanku, saat ini baru bisa kudengar jelas suara dari lagu kepak sayap serangga ini. Begitu berirama dan menyentuh, namun aku tak pernah tahu apa artinya. Sampai disini, aku sama sekali tak memahaminya…

“Law Like Love, laW is the loVeLy of the oLD the iMpoTEnt GranDfatHErs Lovely ScrOld …lAw is the sENseS of the YouNg.”

“Ah, mana bisa aku menjalin percintaan…” gumamku.

“Lagipula, ruangku ini begitu tebal, hanya menyisakan sesuatu yang kini kunikmati sendiri.” Tambahku lagi.

Namun aku akui kalau lagu ini begitu indah, dan aku terkurung dilingkaran lagu dimainkan serangga ini. Sesaat aku ingat kalimat di dalam buku berwajah tadi ‘Love the one You’re With’, terbayang pada mataku kini, akan bingkai-bingkai penuh warna, penuh bunga dan juga…

“OtHEr Say, laW is our FatE… Other saY, Law is ouR StatE… Other say, Other say… LiKE love I Say”

* * *

“Tuk… tuk… tuk…”

Aku terbangun dari tidurku, kulihat aku masih berada di ruangku yang tak berubah.

“Tuk… tuk… tuk…”

Suara ketukan di luar jendela membuatku terbangun rupanya, siapa lagi yang mengetuk kalau bukan kabut dari bebukit terjal itu, entah apa yang diinginkannya. Kulihat serangga itu masih berada tepat dihadapanku, sesekali ia turun naik, dan lagu itu masih terus berkumandang. Namun ada sesuatu yang aneh, lagu itu semakin tak jelas terdengar

“…lIkE lOVe we don’T kNow wHeRe or wHy …LIke loVE we cAn’t cOmPEl or fLy …LiKe loVe we oFten weEeEEeeEeeEEeP…”

Sampai di situ saja, lalu serangga itu jatuh tepat di meja. Kulihat ia begitu terengah-engah, dan peluh keluar deras membasahi dirinya. Sayapnya tak lagi mengepak, hanya sesekali saja, dari sesekali itu, kalimat terakhir dari lagu itu adalah… Lampion yang sedari tadi di bawanya jatuh tergolek di lantai dan api menyebar keluar dari dalamnya, sesaat menghitam lalu menjadi debu. Termangu aku memandangi serangga yang mulai kehabisan nafas, lambat laun sayapnya tak lagi mengepak, ia benar-benar mati tertelan hasratnya sendiri, hasrat yang begitu menggebu, hingga ia tak sadar kalau ia hanyalah mahkluk kecil yang berani-beraninya membawa lampion berat itu, aku sampai tak habis pikir kenapa ia melakukannya.

Aku tengadah pada langit-langit ruangku, di atas sana sama sekali tak ada apa-apa, hanya langit-langit terdiri dari hitam dan putih.

“Tak ada bahaya yang lebih besar dari cinta, ia membuat seorang yang lemah menjadi kuat, dan seorang yang kuat menjadi lemah, Ia membuat seorang pemalas menjadi pekerja keras, dan seorang pekerja keras menjadi seorang pemalas. Cinta juga bisa mengubah seorang pengemis menjadi seorang penyair, dan penyair menjadi seorang pengemis.”

Aku menggumam sendiri. Di tengah penolakanku akan cinta, kembali aku reguk teh ku, dan ketika aku lihat serangga lemah itu, terpikir olehku untuk memberi penghormatan baginya.

“Akan kukuburkan serangga ini… akan kubuatkan nisan yang bagus untuknya…” mungkin serangga ini lemah, namun tekadnya tak bisa disandingkan pada diriku.

Aku tertawa lepas, namun tawaku ini kalah keras di banding gerimis yang turun di luar sana, ya… gerimis mulai turun, pasti kabut lebih menebal saat gerimis ini reda. Aku beranjak mendekati perapian, kulihat apinya padam karena tak ada lagi kayu yang bisa dilahapnya, padahal dingin mulai memasuki pori-pori ruangku. Seolah mengerti apa yang aku rasakan, akhirnya kursi dibelakangku berkata.

“Pakai saja diriku untuk menghangatkan tubuhmu…” kata kursi, aku memandang tajam padanya.

“Kalau engkau kupakai untuk dijadikan kayu bakar, lalu siapa yang akan menjadi penyangga bagi tubuhku?” kataku.

“Masih banyak pepohonan di luar sana, engkau masih bisa membuatnya lagi” Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Aku tak lagi menghiraukan apa yang diucapkan oleh kursi itu, saat ini aku sibuk mengumpulkan abu dari kayu-kayu yang habis terbakar. Gerimis mereda, seperti sudah diramalkan olehku, kabut menebal. Kali ini kabut mulai ramai mengetuk-ngetuk jendela ruangku. Semakin ramai, terus mengetuk, terus dan terus… Aku semakin kesal pada kabut yang seenaknya sendiri.

“Tak ada tempat di ruang ini hai kabut! ruang ini begitu sempit.”

Aku berteriak keras, namun kabut itu terus saja mengetuk, kali ini ketukannya semakin keras.

“Apa engkau tidak mendengar?” kembali aku berteriak.

“Kenapa engkau tidak membukanya, dan membiarkan kabut itu masuk.” Berkata kursi padaku.

“Itu bukan urusanmu…” kataku, pada kursi.

“Lebih baik engkau membukanya.” Kali ini meja yang berkata demikian, aku memandang kepada kedua benda mati itu.

“Tidak, tidak akan aku buka…” kataku. “Bila aku membukanya, bukan saja kabut yang memasuki ruangku tapi juga angin di luar sana akan ikut masuk juga.”

Aku segera menghempaskan tubuhku pada kursi, sementara ketukan kabut semakin ramai di luar sana.

Tiba-tiba aku terjerembab, kulihat kursi tak ada dibelakangku, ia bergeser ke kanan. Akupun meradang.

“Ada apa denganmu?” kataku pada kursi, dan ia menjawab lebih keras.

“Lebih baik kau membukanya…” begitu juga meja, gelas dan perapian, semua berkata demikian.

“Lebih baik kau membukanya… Lebih baik kau membukanya… Lebih baik kau membukanya…”

Sementara ketukan demi ketukan terus terdengar di jendela, dalam hati aku berkata, apa sebaiknya kubuka, tapi kalau aku buka, maka… Terdengar suara meraung-raung dibelakangku, ketika aku menoleh kulihat serangga yang tadi mati kini terbang kesana kemari dan ukurannya menjadi lebih besar dari serangga kebanyakan. Serangga itu meracau tak tentu.

* * * * *

“Kita bagaikan cinta, entah ada di mana. Kenapa kita bagaikan cinta, kita juga tak mengerti. Kita bagaikan cinta, kuat dan tak bisa menghindarinya. Kita bagaikan cinta, meneteskan air mata. Kita bagaikan cinta, tak bisa menjaganya.”

[Dari “Aturan Bagaikan Cinta”]

Kulihat kursi juga mengatakan hal yang sama, diikuti oleh meja dan juga gelas, ruangku yang tadi sepi kini ramai, bukan hanya ketukan dari luar saja, semakin aku berpikir semakin aku takut pada diriku sendiri. Akankah harus kubuka? Setelah aku membukanya, apa yang akan terjadi pada diriku? Aku terus saja bertanya pada diriku sendiri.

“Buku berwajah itu…” Kulihat buku yang tadi melumer kini melayang-layang di seputarku, kembali aku menangkapnya, kali ini wajahnya berbeda dengan wajahnya yang pertama. Begitu tenang tanpa ada beban sedikitpun.

Kubuka buku itu dengan perlahan, pada halaman pertama kalimat itu masih ada di sana, tertera dengan anggunnya ‘Love the One You’re With’ begitu juga dengan halaman berikutnya, seterusnya, seterusnya, dan seterusnya… Kuhempaskan buku itu, namun ia tak jatuh tapi terus melayang-layang. Ketukan kabut mulai membuatku bosan pada permainan ini. Akhirnya aku menyerah, kuputuskan untuk membuka jendela ruangku, apapun yang terjadi, terjadilah… toh aku tidak sendiri dalam menghadapi kabut asing itu. Aku melangkah pada jendela, sedikit berat langkahku dan kini aku berada tepat di hadapan jendela ruangku.

Perlahan kutarik tuas yang menjadi kunci bagi jendelaku, jendela kubuka perlahan, sekejap aku menoleh kebelakangku, kursi, meja, buku berwajah aneh itu, dan serangga besar itu kini terdiam, entah apa yang mereka pikirkan, sementara perapian mulai menyalakan api, entah api dari mana, namun benar-benar membuatku hangat. Kembali pada jendela yang sudah kubuka sedikit dan aku melebarkannya… akhirnya jendela itu terbuka lebar, aku bisa melihat jelas kabut yang sedari tadi mengetuk-ngetuk, bukan hanya kabut yang kulihat jelas tapi pohon-pohon dengan daunnya, bukit hijau yang terbentang serta bunga-bunga berwarna-warni.

Bukan itu yang kini menjadi perhatianku, tapi kabut ini mulai berubah menjadi seseorang, seseorang yang sudah menarik diriku dari ruangku. Semakin jelas wajah itu, semakin aku tercekat. Sendi-sendi tubuhku luluh pada senyum yang terkembang, aku jatuh pada lamunanku sendiri, dan tidak sadar kalau dirinyalah yang selama ini terus berada di sisiku.

“Aku sudah bertindak begitu bodoh…” Aku mengumpat pada diriku sendiri.

Kulihat ia hanya tersenyum dan kabut mengaburkan pandanganku. Sesaat suasana begitu tenang, ketika kulihat tak ada lagi kursi, meja juga gelas berisi teh beserta perapian, menghilang entah ke mana. Begitu juga dengan buku berwajah aneh, atau serangga besar itu, semua menghilang tertelan kabut.

Yang tersisa dari semua itu hanyalah ia, dan ruang yang kini pemuh dengan warna serta hangat.

“Dunia ini tak selalu hitam dan putih kan…” Berkata dirinya pada diriku. Suara itu… ya, aku baru menyadari kalau aku selalu rindu pada suara itu. Aku pun baru ingat bahwa kalimat terakhir dari lagu itu adalah :

“…LIke LoVe …We sELdom keEP.”

Pengarang :M.M. Akbar Wijaksono
Sumber :SituSeni