Percayalah engkau Pada-Nya, niscaya yang terbaik akan dilimpahkan padamu.Yakinah bahwa jika sesuatu telah digariskan untukmu, maka takkan mungkin ia lari darimu. Itulah ketentuan-Nya.Sebuah takdir yang akan engkau jalani.
***

Berpuluh-puluh tahun yang silam , tepatnya sekitar thun 50an.Saat itu, aku masih muda dan berada dalam masa kebahagiaan.Bagaimana tidak, aku telah menjalin hubungan penuh cinta, akrab dan saling menjaga diri dengan seorang pemuda.Kami telah bertunangan dan sedang menunggu waktu untuk menikah-ditentukan oleh keluarga besar kami.Bagiku ia adalah seorang calon suami yang ideal dan impian setiap perempuan.Meski usianya masih muda, tapi sifatnya sudah sangat matang dan dewasa.Ia juga sangat tampan.Kuakui,aku sangat mengagumi dan menyanjungnya, dan mungkin hal itu adaah sebuah kekhilafan hingga Allah memberikan cobaan-Nya.

Tak lama lagi kami akan menikah.Namun diluar dugaan, situasi kacau terjadi di negeri kami dan aku terjebak di dalamnya.Aku kehilangan kebebasan terlibat urusan politik.Terpaksalah aku hidup dibalik terali besi selama 5 tahun penuh.Hal itu terjadi di akhir tahun 50an hingga pertengahan 60an.Selama itu tunanganku sabar menunggu.Sayang, ia tak tahan.Ia pun memutuskan untuk pergi.

Aku yang masih berada dalam tahanan tentu saja terkejut dan kecewa mendengar soal pemutusan itu.Apalagi tersiar kabar bahwa dia telah menikah dan memiliki anak setahun kemudian.Betapa cinta memang kejam! Saat itu benar-benar tak tertahankan rasanya beban dalam hatiSeringkali kulewati malam hanya dengan memikirkannya.Tanpa sadar aku pun hidup dalam mimpi-mimpi masa lalu.Duduk sendiri dan melamun adalah kegiatan harianku.Untunglah saat kaki ini berada sangat dekat di lubang keputusasaan , Dia segera menolongku

Berkat bantuan-Nya , aku akhirnya bisa bertahan melalui semua cobaan itu.Setelah menadi orang bebas lagi,aku mencoba menata hidupku kembali yang sempat berantakan.Aku harus bangkit dari keterpurukan dengan menyandang status sebagai bekas narapidana. Tapi alhamdulillah, Allah mempertemukan aku dengan seorang lelaki yang kabaikan dan kesabarannya membuat hati ini akhirnya menikahinya. Selain itu , denagn memilihnya sebagai pasangan hidup, aku juga belajar untuk mencintai lagi dan menyembuhkan luka lama yang masih terbuka.

Aku dan suamiu hidup dalam kesederhanaan.Kuakui, ditahun-tahun pertama pernikahanku, aku masih sering teringan mantan tunanganku, dan tanpa sengaja sering membandingkannya dengan suamiku.Dan semua itu tak kulakukan lagi setelah kelahiran anak pertama kami, dan adik-adiknya.Dan kebahagiaan itu akhirnay membuatku lupa sama sekali dengan mantan tunanganku.Sebaliknya , aku sangat bersyukur memiliki keluarga seperti yang diberikan Allah ; suami dan anak-anak yang mencintaku.

Masa – masa bahagia kami terus berlangsung hingga anak-anak tumbuh dewasa dan menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Tinggallah aku dan suami di rumah kami yang tak sramai dulu.Meski begitu, kami tak pernah kesepian karena anak-anak dan keluarganya sering berkunjung di akhir pekan.Namun, setiap awal pasti ada akhir.Yang hidup pasti mati.Allah memanggil suamiku terlebih dulu.Hidup sendiripun mulai ku jalani.Saat itu, usiaku 50 tahunan.

Pada tahun-tahun setelah kematian suamiku, beberapa kerabat dan sahabat bahkan anak-anakku menyarankan aku menikah lagi.Mereka bahkan telah menyiapkan sejumlh calon yang dianggap pantas .Namun karena aku merasa tak ingin menikah lagi, semua calon ku tolak.

Sampai pada suatu ketika nasib mempertemukan aku dengan seorang lelaki yang pernah memiliki arti dalam hidupku di masa lalu. Dia , mantan tunanganku.Ternyata keadaanya saat itu sama seperti aku, istrinya telah meninggal,sementara anak-anaknya telah menikah.Sementara selama ini dia tinggal bersama slaah seorang anaknya.Tak disangka pertemuan itu dengan mudah berlanjut kepertemuan selanjutnya yang tentu saja menghidupkan kembali rasa yang pernah ada di antara kami, apalagi kami mersa senasib.Semua itu kemudian membuatku berfikir kenapa aku tak menikah saja dengan mantan tunanganku.Setelah mengungkapkan niatku padanya yang disambut dengan bahagia, kami sepakat untuk menyampaikannya pada anak kami masing-masing dan meminta pendapat mereka.

Niat baik itu ternyata tida langsung disetujui oleh salah satu anakku.Saat mendengar tanggapannya, hati ini tiba-tiba saja merasakan pedih yang sama seperti dulu.Apakah jodohku dan dia akan terhalang sekali lagi ? Apakah kami ditakdirkan hanya memendam cinta, tanpa pernah berkesempatan mereguknya bersama daam sebuah bahtera rumah tangga ?

Tapi alhamdulilah, kali ini Allah berkehendak lain.Kami benar-benar berjodoh hingga menjadi suami istri.entah bagaimana anakku yang semula tak setuju tib-tiba berubah fikiran.Pernikahan kamipun dilangsungkan.sepanjang acara, aku bahkan tak bisa menahan tangis karena telah merasa mendapat salah satu mukzijatNya;bahwa jika seseorang telah ditentukan sebagai jodohmu olehNya, maka ia tak kan pernah lari kemana.