Aku membuka pintu kamarku yang tadinya terkunci. Ku amati sekelilingnya sebentar, lalu aku membuang tasku dan menjatuhkan tubuhku yang masih mengenakan sepatu ke atas tempat tidur.

Aku masih mengingat kejadian semalam sebelum aku tidur. Antara mimpi dan kenyataan, memang. Sesosok pria berbadan tegap dan tinggi datang menghampiriku ketika aku belum dapat memejamkan mataku. Tak begitu terlihat jelas, karena malam itu aku sudah mematikan lampu kamarku.

Aku terperanjat, dari mana ia masuk? Siapakah sosok pria itu? Yang aku lihat hanya bayangan hitam yang gelap. Sampai saat ini, otakku masih penuh dengan tanda tanya tentangnya.

Sesaat aku melupakan peristiwa semalam. Aku baru sadar kalau aku sendirian di rumah. Dengan langkah sigap, aku memeriksa kamar Mama.

“Ma…? Mama…?” aku panggil mama beberapa kali. Tetapi sama sekali tak ada jawaban. Hanya suara hembusan angin yang ku dengar. Langkahku terhenti sejenak. Tak lama aku bergegas ke kamar Anton, kakakku. Tetapi tampaknya ia juga tak ada di kamarnya.

“Dasar bodoh! jelas aja dia nggak ada di kamarnya. Emang, hari ini hari libur? Kadang, hari libur pun, dia nggak betah di rumah.” aku berkata-kata sendirian. Berusaha menghibur diri sendiri.

Dengan langkah gontai, aku kembali menuju kamarku. Bete juga kalo sendirian. Nggak bisa ngapa-ngapain. Kalo lagi gini… enaknya ngapain, ya? Aku malah jadi ngelamun.

Aku menutup pintu kamarku. Di balik pintu, terlihat secarik kertas berisi tulisan tangan Mama.

Citra sayang,

Maaf Mama mendadak pergi tanpa memberi tahu kamu. Mama ke Sukabumi selama tiga hari. Ada bisnis dengan teman Mama. Ini Mama kasih uang saku untuk kamu. Jangan lupa beritahu Anton. Take care, ya!

-Mama-

Aku menghitung beberapa lembar uang puluhan ribu yang Mama lampirkan di surat itu. Uh! Sebel! Mama selalu begini. Pasti pergi mendadak kalau Mama sudah mengurusi hobi mengoleksi mutiara-mutiara itu.

Lagipula, kenapa sih Mama nggak taruh pesan itu diatas TV, di meja telepon atau di mana saja yang letaknya lebih strategis daripada di belakang pintu?

Tunit… tunit… tunit…

Deringan telepon yang letaknya tak jauh dari kamarku itu telah membuat aku tersentak. Dengan malas aku, aku berdiri meraih gagang telepon itu.

“Hallo?”

“Citra, ya? Cit, gue malem ini nggak bisa pulang,” suara kakakku terdengar di seberang sana.

“Emang kenapa, Ton?” tanyaku sambil memindahkan posisi gagang telepon.

“Gue nginep di rumah temen kantor, ada kerjaan lembur, Cit. Cuma sehari kok.“

“Sehari?”

“Iya. Bilangin sama Mama ya, Cit.” pinta Anton.

“Uuhh.…” aku langsung ngeluarin aksi ngambekku. “Citra sendirian nih! Mama pergi ke Sukabumi tiga hari.” ucapku sedikit memelas. Mudah-mudahan saja Anton mau membatalkan kata-katanya barusan.

“Bisnis mutiara lagi, ya ?”

“He-eh!” jawabku singkat dengan nada manja.

“Gue cuma sehari, kok. Besok malem gue pulang.”

“Nggak bisa! Elo harus pulang sekarang! Citra takut nih sendirian!”

“Takut ama apaan sih? Udah, pokoknya gue baru bisa pulang besok malem! Dah dulu ya, Cit. Take care,“ Anton menutup gagang teleponnya lebih dulu.

Take care! Take care! Mama sama Anton justru yang nggak care sama aku. Mau marah, marah sama siapa? Akhirnya, jadi marah sama diri sendiri. Hari ini nyebelin banget sih? Sendirian di rumah? Aku jadi inget sama film Natal ‘Home alone’. Emang stok lama sih, tapi masih aja bagus walau aku sudah nonton berkali-kali.

Daripada bengong, enaknya ngapain, ya? Duh, kenapa nggak kepikiran dari tadi sih? Ngajak Restu, teman kampus sekaligus tetanggaku nginep di rumah mungkin bisa bikin suntuk yang dari tadi terasa ini jadi hilang?

Bergegas aku mengganti baju kuliahku yang dari tadi pagi aku kenakan. Hanya dengan beralaskan sandal jepit, aku berlari menuju rumah Restu.

* * *

Malam ini, aku benar-benar sendiri. Restu tak bisa menemaniku karena Ibunya yang sudah tiga hari ini terkena demam tinggi. Pastinya, Restu akan lebih memilih menemani Ibunya ketimbang aku. Lalu, siapa lagi yang bisa menemaniku? Di kampus, aku memang tak punya banyak teman. Di saat-saat seperti inilah aku sering menyesali diriku karena tak punya banyak teman.

Untuk menghilangkan rasa takut, aku menghidupkan televisi dengan suara yang cukup keras. Tak peduli tetangga kebisingan atau tidak, yang penting aku bisa menghilangkan rasa takutku. Di tambah lagi dengan cemilan yang aku beli di toko makanan sebelah rumahku, menambah kenyamanan menontonku.

Sudah satu jam aku berada di depan televisi. Hati ini bukannya tenang, malah semakin berdetak kencang. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Tetapi entah apa itu.

Brakk !!!

Pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka sendiri. Tubuhku mulai bergidik. Aku merinding.Terlebih lagi tadi aku sempat menonton film horror ’The Ring’. Aku coba mengamati ke depan rumah. Aku sedang mencari-cari alasan, apa yang membuat pintu itu terbuka sendiri? Padahal tak ada angin sama sekali.

Aku mengamati sekeliling. Tak ada yang aneh di sekitarku. Aku sangat takut. Apa hal kemarin malam akan aku alami lagi? Oh, tidak! aku merasa ada seseorang lagi di sini selain aku. Siapakah itu? Aku semakin takut. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?

“Citra…” suara itu sepertinya terdengar tepat di belakangku. Aku mencoba palingkan wajahku ke belakang pelan-pelan untuk melihat wujudnya.

“Apa kamu bisa melihatku?” tanyanya pelan. Suaranya hampir tak terdengar. Aku hanya mendengar desahan dari mulutnya. Sesosok tubuh tinggi tegap yang kemarin malam menghampiri tidurku terlihat menebar senyumnya padaku.

Astaga!! Aku benar-benar terkejut dengan keberadaannya. Rasanya aku ingin berteriak. Tetepi entah kenapa, bibirku ini sepertinya terkunci. Dan nyatanya, aku terdiam cukup lama setelah mengamati wujudnya yang sekarang tengah berdiri di depanku. Sekali lagi, wajah pucat pria yang putih bersih itu tersenyum sangat ramah padaku. Tetapi, tetap saja rasa takutku tak juga hilang.

“K… ka… mu… s… si… siap… pa?!” kataku terputus-putus.

“Kamu nggak usah takut, Citra. Aku nggak akan berbuat jahat sama kamu,”

“K… ka… kamu… m… mau apa?! D… dari… dari mana kamu t… tahu… namaku?” tanyaku masih dengan nada ketakutan. Aku mundur selangkah ke belakang. Karena ia mulai mendekati aku.

“Citra, jangan takut. Aku nggak akan nyakitin kamu. Percayalah.” ia sedikit memohon padaku.

Sementara aku tak tenang. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajahku menjadi makin pucat. Sepucat dirinya. Lebih mengejutkan lagi, ia mengetahui namaku.

“Citra, tenangkanlah dirimu. Aku…”

“Siapa kamu…?! Tolong, jangan ganggu aku…” aku memotong kalimatnya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Aku juga tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku benar-benar takut. Saat ini aku hanya mengharapkan datangnya keajaiban dari Tuhan.

“Aku nggak bermaksud untuk mengganggu kamu, Citra. Aku hanya ingin minta tolong! Karena saat ini, hanya kamu yang mampu melihatku. Hanya kamu yang dapat menolongku,” jelasnya pelan. “Kalau kamu bisa tenang, aku akan jelasin semuanya,” ia melanjutkan kata-katanya. Aku mencoba menuruti perintahnya untuk tetap tenang.

* * *

Setengah jam kemudian, tepatnya jam 11 malam aku sudah mulai dapat mengontrol diriku. Ia mencoba memperkenalkan dirinya padaku. Menceritakan semua tentang dirinya dan kehidupannya padaku. Ternyata, ia memang bukan makhluk jahat seperti yang aku perkirakan. Ia hanya makhluk malang yang terbuang dan terlantar ke pinggiran kota.

Namanya Bagus. Entah kenapa harus aku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan ruhnya. Ia mengatakan kalau ia sudah meninggal kemarin malam. Tepat ketika ia mendatangkan aku pertama kalinya ketika aku ingin pergi tidur. Ia mati karena di bunuh oleh seorang ‘lintah darat’ karena ia belum bisa melunasi hutang-hutang keluarganya pada ‘lintah darat’ itu. Memang hutangnya sudah bertahun-tahun belum dibayar. Dan hutang itu pun sudah berlipat ganda karena berbunga. Keluarga Bagus mencoba membayarnya dengan mencicil sedikit demi sedikit. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa melunasi hutang-hutangnya. Karena keluarga Bagus sulit untuk mendapatkan uang. Bagus mengatakan bahwa dirinya memang dari keluarga yang kurang berada.

Yang lebih mengenaskan lagi, setelah dibunuh, mayat Bagus dibuang di sungai belakang rumahku dan ditinggalkan terlantar begitu saja.

“Aku nggak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Tak ada yang peduli padaku, Citra. Karena tak ada yang bisa melihatku. Aku saja sempat kaget ketika tadi kamu mengetahui keberadaanku,” jelas Bagus. Dengan wajah biru dan pucat, ia mulai meneteskan air matanya.

“Citra, tolong aku. Aku tidak mau melihat jasadku terlantar dan hanyut terbawa arus sungai,” Bagus melanjutkan kata-katanya.

Sementara aku hanya diam. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan untuk membantunya? Aku tidak dapat melakukan hal ini sendirian.

“Aku… ikut simpatik atas apa yang telah menimpa kamu, Gus. Tetapi, apa yang bisa aku bantu?” aku mengernyitkan dahi dan meletakkan kedua tanganku di daguku.

“Aku hanya ingin orang yang membunuhku itu ditangkap.” terdengar ada perasaan dendam dibalik kalimat yang barusan Bagus katakan. “Aku takut ia juga mencelakakan keluargaku. Aku juga ingin jasadku ditemukan dan cepat-cepat di makamkan. Aku tak ingin jadi hantu penasaran,“ pinta Bagus padaku.

Aku jadi semakin bingung. Aku bukan Tuhan yang bisa mengangkat ruhnya begitu saja dan pergi ke dunia yang lain. Aku juga bukan detektif yang dengan mudah memecahkan segala macam kasus. Aku bukan juga polisi yang memiliki banyak ajudan dan mencari jasad yang hilang dengan sigap dan cepat. Aku ini hanya manusia biasa dan tidak punya pengalaman apa-apa tentang hal ini.

“Tapi… keluargamu kan, tinggal di Jakarta. Kalau dari Bogor sini… nggak ah! aku takut bepergian jauh sendirian untuk menemui keluarga kamu,”

“Aku nggak menyuruh kamu untuk pergi menemui mereka. Laporkan saja peristiwa pembunuhan ini pada polisi, itu akan lebih memudahkan kamu.” ujar Bagus memberikan saran.

“Nggak mungkin saat ini, Gus. Kita belum menemukan bukti! jasad kamu aja belum ditemukan. Kalau aku melapor polisi tanpa bukti, nanti malah aku yang dituduh mempermainkan polisi,” aku berdiri dan mondar-mandir di sekitar ruang tamuku.

“Kalau begitu, kita harus menemukan bukti lebih dulu. Besok, aku akan mencari tubuhmu yang hanyut di sungai itu. Kau akan temani aku, kan?” lanjutku dengan semangat. Aku lihat, Bagus tersenyum senang karena aku mau membantunya. Ia mencoba memegang kedua tanganku tanda mengucapkan terima kasih. Tetapi, tangannya sama sekali tak bisa menyentuh tubuhku.

* * *

Sudah dua hari aku dan Bagus mencoba mencari tubuhnya yang hilang. Aku menelusuri aliran sungai di belakang rumahku. Aku dan Bagus sudah berjalan cukup jauh. Kami sudah berjalan kira-kira 2 KM lebih. Aku juga menyandang tas ransel besar berisi bekal, kompas, senter, tali serta alat-alat untuk membantu dan mempermudah mencari jejak tubuh Bagus yang pastinya sudah mulai membusuk.

Kemarin, aku dan Bagus berhasil menemukan potongan baju yang terakhir kali dikenakan Bagus. Potongan baju itu tersangkut di ranting-ranting pohon yang jatuh di pinggir sungai.

“Gus, aku lelah.” kuseka keringat yang menetes di sekitar wajahku dengan sapu tangan. Kemudian aku duduk di bebatuan pinggir sungai.

“Kita istirahat aja dulu, kamu pasti capek banget setelah dua hari membantu mencari jasadku yang hilang,”

“Nggak apa-apa kok. Aku seneng bisa bantu kamu. Mmm… itung-itung lagi belajar jadi detektif,“ jawabku sambil tersenyum.

Sengatan matahari yang lumayan terik telah membuat tenggorokanku kering dan perutku semakin kosong. Untungnya, aku tidak lupa untuk membawa bekal sebelum aku berangkat ke sungai ini untuk mencari dan menemukan jasad Bagus.

Ketika aku sudah menyantap setengah dari makan siangku di pinggir sungai, seorang bapak setengah tua datang menghampiriku dan menyapaku ramah.

“Neng teh, lagi ngapain di sini sendirian? Neng lagi makan?”

Sendirian? Enggak kok. Aku kan, berdua sama Bagus. Ups!! Oh iya! Aku lupa kalau hanya aku yang dapat melihat Bagus.

“Iya, Pak.“ aku membalas pertanyaan dan mengembalikan senyuman ramahnya.

“Kok bawa tas besar segala? Sebenarnya, Neng lagi ngapain di sini? Sendirian, lagi. Tidak baik atuh perawan geulis kayak Eneng sendirian di pinggir sungai ini. Kata orang mah, pamali.“ tanya bapak itu sekali lagi padaku.

“Ng… saya… saya… lagi…”

“Cit, jangan bilang kamu sedang mencari jasadku. Aku yakin kamu bisa cari alasan lain,” ucap Bagus padaku.

“Lagi… mmm… penelitian, Pak.” aku melanjutkan kalimatku yang tadi terputus.

“Penelitian? Di pinggir sungai seperti ini?” bapak itu bertanya lagi. Kali ini, ada sedikit nada curiga pada kata-katanya.

“Mm… saya…” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Entah kalimat apa yang akan aku lanjutkan untuk menjelaskan pada bapak setengah tua itu. Aku hanya bisa memandang bergantian antara Bagus dan bapak ini yang kini berada di depanku.

“Saya… sedang mengamati… limbah sungai ini, Pak. Iya… benar, Pak. Limbah industri. Sekarang ini kan, sedang marak-maraknya tercemarnya air sungai karena limbah industri.” yup. Tepat sekali ucapanku. Akhirnya kalimat itu tersusun rapi dan terucap begitu saja.

“Oo… bilang atuh dari tadi. Penelitiannya buat bahan kuliah, ya?”

“I… iya, Pak.” aku mencoba menyembunyikan kebohonganku dengan senyum.

“Setahu bapak sih, di sungai ini tidak tercemar limbah industri. Soalnya, di Bogor sini, nggak ada pabrik. Harusnya, Neng ke Jakarta saja. Sungai Ciliwung, Neng. Di sana sudah tidak salah lagi. Sudah tidak bersih lagi airnya, bla…bla…bla…” bapak setengah tua itu terus berbicara tentang sungai Ciliwung.

Aku mulai bosan mendengarkannya. Tetapi aku tetap berusaha untuk tersenyum.

“Hati-hati, Neng. Bahaya sendirian di pinggir sungai ini. Arusnya cukup deras,”

Bapak setengah tua itu mengakhiri kalimatnya. Aku mengangguk kemudian tersenyum kembali. Tak lama, ia pun pergi meninggalkan aku dan Bagus.

“Huhh… hampir aja ketahuan.” ucapku sambil mengelus dada. Kemudian aku melihat Bagus yang sedang tertawa kecil di sebelahku.

“Apanya yang lucu? Bukannya nolongin, malah diketawain. Dasar hantu jahil!“ aku mengemasi makan siangku yang belum habis, dan memasukkan kembali ke dalam tas ranselku.

“Kok nggak diabisin sih makan siangnya?” tanya Bagus masih sambil cekikikan.

“Kenyang!!” jawabku jutek.

“Manis juga ya, kalo kamu lagi marah,” ledek Bagus. “Bener kan, tebakanku, kamu pasti bisa sedikit berbohong.” ucap Bagus mencoba menyanjungku.

“Kalo bukan karena kamu, aku pasti sudah beberi cerita ini pada seluruh warga! Emangnya kenapa sih, kita harus menyelidiki kasus ini secara diam-diam? Bukannya kalau warga sekitar sini tahu, kita akan lebih mudah mengungkapkan kasus ini? Mereka pasti mau membantu mencari jasadmu yang hilang, Gus.”

“Aku hanya nggak mau warga jadi geger karena ada penemuan mayatku,”

“Bagus… cepat atau lambat, pasti warga tetap geger setelah mereka tahu dan menemukan mayat kamu! kalau di desa ini telah terjadi pembunuhan!” agaknya aku sedikit stres dengan masalah ini. Bagus hanya menunduk lemah tanpa kata. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.

* * *

“Cit… Citra… bangun, Cit! Di sungai seberang hutan sana, ditemukan mayat, Cit!” Mama mencoba mengoyang-goyangkan tubuhku.

“Apaan sih, Ma? Lho…? Mama udah pulang?” aku membuka mataku perlahan-lahan. Kata-kata Mama barusan, aku dengarkan dalam keadaan setengah sadar.

“Tadi, dalam perjalanan pulang, Mama melihat di sungai seberang hutan sana, sudah dipenuhi banyak warga dan polisi. Ada penemuan mayat, Cit!” Mama mencoba menjelaskannya padaku.

Mayat? mataku terbelalak mendengar kata-kata Mama.

“Mayat siapa, Ma?” tanyaku mencoba mengorek informasi dari Mama.

“Mama juga kurang tahu katanya, bukan warga sekitar sini. Makanya, Cit! kita lihat ke sana aja biar lebih jelas,” ajak Mama.

Tanpa mengganti baju tidurku, aku langsung berlari ke lokasi TKP penemuan mayat itu.

“Ma… di mana?” tanyaku tergesa-gesa sambil melangkah kakiku dengan cepat dan mencari tempat yang kami tuju.

“Di depan sana, Cit. Malah, kakakmu sudah lima belas menit yang lalu berada di sana,”

Di jalan menuju TKP, aku sangat resah. Apa benar itu jasad Bagus? Lalu di mana Bagus sekarang? Kenapa ia tak ada didekatku saat ini? Apa ia tahu bahwa jasadnya saat ini telah ditemukan ? bagaimana dengan keluarganya ? mereka pasti mencemaskan Bagus. Oh… pikiranku kacau! Semuanya jadi melayang tak tentu arah.

“Di sana, Cit!” Mama menunjuk ke arah di mana mayat itu ditemukan.

Di sana telah terlihat kerumunan orang mengelilingi jasad yang baru diangkat dari sungai itu. Seorang ibu muda yang menemukan jasad itu saat ia sedang mencuci pakaiannya di pinggir sungai. Ia melihat ada sesuatu yang bentuknya aneh mengambang di pinggir kali. Saat itu juga, ibu muda itu berteriak histeris memanggil warga sekitar, lalu menghubungi polisi.

Aku ingin cepat-cepat melihatnya dari dekat. Entah di mana Mama sekarang. Aku berpisah darinya. Aku mencari tempat yang tidak begitu sesak untuk menyusup di antara kerumunan warga yang ingin melihat langsung tubuh yang tidak bernyawa itu dari dekat. Aku ingin membuktikan, apakah tubuh itu milik Bagus ?

Aku menangis, menangis sejadi-jadinya ketika melihat tubuh lusuh dan terbujur kaku itu ternyata benar milik Bagus. Wajahnya, kini tak berbentuk wajah putih bersih milik Bagus. Pakaian yang melekat di tubuh itu pun sudah compang-camping, rusak di makan arus sungai yang deras. Air mataku makin tak kuat aku bendung lagi ketika aku melihat ruh Bagus berada di samping tubuh lusuhnya. Ia juga terlihat sedang menangis. Menangisi dirinya karena mati sia-sia. Tak lama, aku melihat Bagus tiba-tiba menghilang meninggalkan tubuhnya dan melayang entah kemana.

Aku mencoba mencarinya dan pergi dari kerumunan warga yang mengelilingi jasad itu.

“Bagus…? Kamu di mana…?Gus…? Aku tahu kamu pasti sedih sekali setelah kamu melihat…”

“Aku di sini, Citra. Di belakangmu.” ucap Bagus memotong kalimatku. Tanpa berpikir panjang, aku palingkan wajahku ke belakang. Ku lihat ruh tampan itu menangis tak berdaya.

Aku menarik nafas panjang. Aku berusaha dan mencoba untuk menenangkannya.

“Gus… tabah, ya. Bukankah ini yang kamu inginkan? melihat jasadmu ditemukan?” aku bertanya pada Bagus. Aku tak ingin menyinggung perasaannya. Aku hanya bisa mengamatinya. Ia juga tak bisa langsung menjawab pertanyaanku.

Ia masih saja menyeka butiran air mata yang belum berhenti menetes di pipinya. Aku melihat, keadaan Bagus saat ini sudah agak baikan setelah ia melihat tubuhnya dibungkus dan dimasukkan ke dalam mobil jenazah yang datang 10 menit yang lalu.

“Cit, aku… ingin mengucapkan terima kasih. Jasadku kini telah tertolong. Polisi kini sedang menyelidiki siapa orang yang membunuhku. Dan tubuhku akan diautopsi dan divisum terlebih dahulu sebelum tubuhku ini dikembalikan kepada keluargaku,”

“Apa… mereka sudah tahu tentang kematianmu?”

“Ya. Setelah polisi berhasil mencari tahu identitasku, mereka langsung menghubungi keluargaku di Jakarta. Cit, sekali lagi… aku ingin mengucapkan terima kasih,”

“Kamu nggak perlu berterima kasih padaku, Gus. Lagi pula, polisi dan warga-lah yang berjasa padamu, karena mereka yang menemukan dan mengurus jasadmu. Apa aku bilang, cepat atau lambat mereka akan menemukanmu,” aku tersenyum.

“Cit… aku harus pergi. Jasadku akan segera diberangkatkan. Aku harus selalu berada di samping jasadku sebelum dimakamkan,” wajah putih pucatnya kini berubah menjadi muram.

“Selamat tinggal, Gus.” aku melambaikan tanganku ketika sosoknya melayang mengikuti mobil jenazah itu. Dari jauh, Bagus masih terlihat tersenyum padaku.

“Bagus… aku senang bisa kenal sama kamu!” teriakku dari jauh.

“Cit…? Lagi ngomong sama siapa?” Mama menepuk pundakku dari belakang. Aku sedikit tersentak. Tetapi aku berusaha untuk tetap tenang.

“Iya, lo! Kayak orang nggak waras aja ngomong sendirian, duh… sempet nangis juga, Cit? terharu nih, ceritanya?” ucap Anton ikutan nimbrung.

“Enak aja! Citra tuh masih waras, tau!”

“Trus, ngapain ngomong sendiri?”

“Biarin!”

“Udah, udah. Ayo kita pulang. Mama jadi ngeri kalo ngeliat yang beginian,” Mama merangkul bahuku dan bahu Anton. Walau tanpa Papa, kami adalah keluarga sederhana yang bahagia.

Aku membayangkan betapa sakitnya keluarga yang Bagus tinggalkan mendengar ia telah tiada. Memang bagai teriris mendengar berita tentang kepergian salah seorang anggota keluarga yang kita sayangi. Aku juga merasakannya dulu waktu kepergian Papa. Semoga keluarga Bagus dapat menerima kepergiannya dengan Tabah. Dan semoga Bagus dapat diterima di sisi-Nya.

Pengarang :nita bintang

Sumber :
www.Kolomkita.com